Isra' Mi'raj & Cinta Khadijah r.a


Isfho Youse



Jum'at, 12 Maret 2021 M

            , 28 Rajab 1442 H

Penulis : Isfho Youse

Kebanyak orang mengatakan bahwa perjalanan Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha itu karena pergi menjemput shalat. Padahal Pelaksanaan Isra' & Mi'raj tidak terlepas dari bukti kecintaan Rasulullah SAW kepada Istri Beliau Saiyidatuna Khadijah dan begitu sebaliknya bukti kecintaan Saiyidah Khadijah kepada Saiyidina Muhammad SAW. 


Perintah itu bukan turun diawal tapi datang diakhir. Dari tahun ketika dilaksanakan Isra' Mi'raj Ulama'-ulama' dahulu mengatakan dengan tahun kesedihan. Mengapa demikian? Karena ditahun itu Rasulullah mengalami banyak ujian berat, salah satunya beliau ditinggalkan wafat oleh paman tercinta "Abu Thalib" sehingga tidak ada lagi yang melindungi dakwahnya di Kota Makkah. Setelah itu, ditinggal wafat pula oleh Istri tercinta yang sudah banyak berkorban dan mensupport dakwah Nabi SAW baik dalam bentuk Moril maupun Materil dan ini yang paling membuat Rasul sangat patah hati. Kenapa? Karena Khadijah wafat sebelum perjalanan dakwah selesai. 


Rasul sedih yang mendalam merasakan kegalauan. Biasanya ketila Nabi berdakwah mendapatkan banyak bulian, cacian dan hinaan maka Khadijah yang menenagkan Rasulullah, menghibur suaminya. Tapi, Allah berkehendak lain mengambil Khadijah sebelum dakwah di Makkah yang saat itu pada sulit-sulit dan dakwah dimakkah belum beres. Kesedihan itu berlarut dirasakan Rasulullah SAW. 


Kesedihan Rasul itu mengenang istri tercinta karena Khadijah pernah berkata kepada suaminya (Rasulullah) "hai suamiku tercinta, jika nanti aku sudah meninggal lalu hartaku sudah habis dijalan dakwah. Sedengkan engkau butuh jembatan meniti jalan untuk berdakwah? Maka jadikanlah Tulang-Belulang ku sebagai titian jembatanmu untuk melakukan perjalanan dakwah di Jalan Allah SWT". Begitu besar kecintaan Khadijah kepada Rasulullah dalam melaksankan dakwah islamiyah. Jangan harta atau nyawa bahkan khadijah merelakan tulangkan sebagai manfaat dakwah jika itu dibutuhkan. 


Sehingga turun perintah Allah kepada Nabi Muhammad melalui Jibril A.S. Allah memberikan bukti bahwa yang penolong itu bukan Abu Thalib, cinta sejati itu bukan Khadijah. Allah ingin memperlihatkan keagungannya kepada Hamba terbaik itu dengan melakukan Isra' dan Mi'raj melalui firman Allah Surah Al-Isra' ayat pertama. 


Dari ayat itu seakan-akan dalam bahasa sederhana kita Allah menyampaikan kepada Rasul "Hai Muhammad, perlindungan yang diberikan Abu Thalib itu seberapa begitu juga dengan cintamu kepada Khadijah itu belum seberapa, buat apa kamu bersedih meratapi kepergian mereka. Ketahuilah aku yang menjadi penolong sejati dan aku yang sangat sejati dalam mencintaimu bukan abu thalib dan khadijah". 


Lalu, diperlihatkanlah keagungan Allah kepada hamba paling mulia tersebut dengan diperjalankannya Rasul mulai dari Masjid Al-Haram ke Masjid al-Aqso dan diperjalankan ke 'Arsyillah di Sidratul Muntaha. *yse


Lebih baru Lebih lama