Pangan, Sandang dan Papan Untuk Memimpin Dunia

Sumber : FB Kurniawan Wawan

Rabu, 24 Maret 2021 M

           10 Sya'ban 1442 H 

Gambar : (kiri) Kurniawan : Ketua DPD Partai Gelora Indonesia Kota Payakumbuh, (tengah) Cairul Mufti ( Heru ):  owner     Abeja Tani dan Abeja Mart, (kanan) Sepriyanto Chaniago :Pimpinan  Madani ISLAMIC School, tengah dan kanan merupakan pengusaha muda dan enerjik, keduanya mbawahi ratusan karyawan.

Payakumbuh,gelombangsumatera.com--- Pangan, sandang  dan papan adalah kebutuhan Primer.  Sejak jenjang Sekolah Dasar kita sudah mengetahuinya dari pelajaran IPS.  Apakah itu sebuah urutan، kelihatannya tidak juga, makan tercukupi tapi tak berbaju sangat tak mungkin. Makan dapat, baju terkenakan, tak dapat istirahat jika tak berumah. Maka perlu rumah, sekalipun masih rumah Papan.


Kita Umat manusia yang sudah berperadaban Millenium ini, tidak sejengkal tanah pun di permukaan bumi ini yang tidak diklaim oleh satu negara. Begitupula airnya, kecuali di luar ZEE, menjadi klaim bersama Perairan internasional.


Selayaknya dan seharusnya bisa dipastikan bahwa tidak boleh seorangpun dari tujuh miliaran manusia yang bertebaran dimuka bumi ini, hidup terlantar. Baik terlantar pangan sehingga kelaparan, terlantar sandang sehingga terserang penyakit maupun terlantar papan, tunawisma.


Peliknya, kadang antara teori berjarak terpisahkan jurang dalam dengan kenyataan. Di era Four Point Zero ini, masih sering kita dengar, lihat dan baca.  Kelaparan disebuah negara, tunawisma bahkan menjadi problem hampir di semua kota besar didunia. Pandemi tentu memperumit dan memperuwet keadaan.


Menjadi penting di cermati,  apakah klaim sebuah negara atas sebuah wilayah sudah disertai dengan kesadaran akan konsekwensi logisnya. Terutama Pemerintahan terkecilnya, apakah disebut Kota، Kabupaten، Distrik, Ferfektur ataupun apa namanya. Apakah pemerintah ini sudah bisa menjamin kebutuhan dasar manusia atau warganya.


Kalau tidak, perlu diajukan pertanyaan untuk apa klaim dan adanya pemerintahan ini. Di negara kita, potret keseharian kehidupan masyarakat kita pandang setiap hari dengan pandangan miris. Coba ikuti reality show dibeberapa stasiun TV Swasta, sperti program Uang Kaget, Mister Money, dan yang legendaris Bedah Rumah. Saya katakan legendaris disamping pionir untuk program serupa, malah program ini diadopsi oleh beberapa Pemda, bahkan Politisi dimusim kampanye mengembangkan program ini menjadi bedah warung dan sebagainya.


Akhir-akhir ini juga berkembang program reality show serupa, seperti program Keluarga Bosque, dan semacamnya. Ada yang mengeritik program seperti ini mengekploitasi kemiskinan, sebab TV tersebut beroleh iklan yang justru menguntungkan.

Bagi saya nggak Masalah, konkrit ada yang terbantu, lah itu yang ngritik sudah membantu berapa orang miskin, pedagang kecil, sudah berapa pula membedah rumah tak layak huni? Kalau jawabannya belum pernah, atau tak lebih baik dari program reality show tersebut, lebih baik anda, mingkem.


Sempat Viral beberapa waktu yang lalu, seorang Ibu di Nias, membunuh beberapa orang anaknya  prustasi tak mampu memberi anak-anaknya makan. Makan nasi kadang tiga hari sekali, setiap hari seringnya makan rebusan pisang, pengakuan sang suami di acara yang sudah punah  ILC. Akrab ditelinga kita kejahatan serupa bermotifkan dan beralasan ekonomi. Residivis, baru hitungan hari keluar bui tertangkap kembali, mencuri, nyopet, njambret, ngedar Narkoba, alasannya, himpitan dan tuntutan ekonomi, cuma demi sesuap nasi. Anak ABG bunuh diri prustasi tak punya pulsa untuk belajar daring.


La Haula wala Quwwata Illa billahi, lalu dimana itu Presiden, Gubernur, Walikota ataupun Bupati? Bukankah Umar ketika sedang menjabat Kholifah terkenal jarang tidur, selalu keluyuran berjalan kaki dijalan-jalan kota Madinah dengan tongkatnya yang berat. Ketika ditanya orang, wahai Kholifah mengapa begitu? Beliau yang mulia menjawab..." Kalau ada seekor keledai yang terperosok kelobang dijalan ini, maka itu tanggung jawab Umar"...lalu Allah Jalla Jalaaluh...mempertemukan beliau kepada seorang ibu perebus batu dalam ronda malamnya. Dikesempatan ronda malam lainnya, ketika blusukkan antar rumah-rumah Madinah, beliau bertemu putri jujur pedagang susu, gadis jujur ini diambilnya menjadi menantu. Kelak dikemudian hari, dari garis keturunan pedagang jujur ini lahir "Umar kedua", Umar Bin Abdul Aziz.


Imam Ali Bin Abi Thalib, di hari pertama di baiat menjari Kholifah, membagi habis uang Baitul mal, agar jangan ada warga yang kelaparan, kekurangan. 


Untuk apa pemerintahan ini ada jika kebutuhan dasar warganya saja tidak dapat dijamin. Sandang, Pangan dan Papan, seharusnya terjamin jika benar cara penganggaran dan pelaksanaanya. Benar skala prioritasnya. Manajemen paling sederhana saja, yang mendasar saja. Sudahkan mendahulukan yang Primer dari yang Sekunder, apalagi Tersier?


Ketika membangun kantor dan Rumah dinas yang megah, sudah yakinkah bahwa tidak ada lagi warganya yang kesulitan memenuhi kebutuhan hariannya? 

Ketika membangun kawasan wisata, sport center, yang merupakan kebutuhan sekunder dan tersier, sudah yakinkah bahwa semua warga tidak ada lagi yang menunggak kontrakan rumahnya? Bagaimana jaminan kesehatannya, pendidikannya? 

Ketika membeli mobil dinas yang gagah dan mewah, sudah yakinkah tidak ada lagi warganya yang disita motornya oleh debt collector?

Sering membangun menara gading sementara taring warga sendiri menyembul kering.


Bagaimana mungkin suatu kota, daerah, bangsa dan negara bisa maju jika kebutuhan dasar rakyatnya tidak terjamin. Sebaliknya jika kebutuhan dasar rakyat terjamin, secara otomatis mereka tinggal berpikir untuk kemajuan, prestasi. Kebutuhan sekunder dan tersier akan muncul dan terpenuhi dengan sendirinya. Jangan kebalik balik.


Mengapa pemerintah? Bukankah ini tanggung jawab semua, termasuk sektor swasta?  Jawabnya tentu pemerintah, Sebab ia yang dipilih dengan proses yang rumit dan mahal, menghabiskan sumber daya yang tak sedikit. Jika sektor swasta yang bergerak itu sudah insentif, sudah bonus, pahalanya berlipat-lipat untuk yang bersangkutan. Bagaimana tidak? Lapangan kerja tercipta, dituntut pula menjamin kesehatan karyawan melalui asuransi, THR sebentar lagi. Padahal mereka tidak dipilih melalui TPS untuk menjadi Pengusaha.


Jadi kalau dipikir-pikir banyak yang kita bisa sumbangkan untuk daerah, bangsa dan negara bahkan dunia, minimal sumbangan pemikiran seperti ini. Jangan malu dan ragu mengemukakan pikiran, sebab kita sama diciptakan sebagai manusia. Amerika saja yang ngakunya, paling maju dan modern di dunia. Masih terjangkit cara berfikir primitif, cemburu dan rasis. Terhadap Afro Afrika dan Latin sudah berkarat, kini memperluas rambahan rasisnya ke ras Asia. Alih-alih mengklaim ras superior, nyatanya mengidap imperiority complex yang akut.


Berbagai bangsa diberbagai benua, di zaman ini, se terkoneksi ini. Masih sibuk berperang, saling menegasikan, meruntuhkan dan menghancurkan. Sudah saatnya kita tampil memimpin dunia. Adakah bangsa dan negara didunia sekarang ini yang sedamai Indonesia? Tidak jahil dan tidak punya hidden agenda untuk menganeksasi bangsa dan negara lain. Kita pantas. Bahkan punya kewajiban, sebab sejatinya kita umat manusia ini terikat hubungan darah, anak cucu Adam 'alaihissalam. Tentu kita selesaikan dulu PR-PR internal, diantaranya yang paling mendasar, sandang, pangan dan papan. *Yse

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama