KIAT MEMIMPIN WARGA DI DESA HETEROGEN SEPERTI DI JORONG PURWAJAYA, SARILAMAK, HARAU, LIMAPULUH KOTA

Sabtu, 22 Februari 2020 M - 28 Jumadil Akhir 1441 H

Buya Amir Amri
Kepala Jorong Purwajaya Sarilamak
hawaaliynews.com, Sarilamak - Menjadi pemimpin di tengah masyarakat heterogen memang harus memiliki kepiawaian yang tinggi, dan tentunya memiliki kiat-kiat tersendiri supaya tujuan pembangunan nasional itu mudah tercapai.

Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh Amir Amri kepala jorong Purwajaya kepada rekan media pada Kamis malam (20/02/2020) di kediamannya di dusun Wiraguna, jorong Purwajaya, nagari Sarilamak, kecamatan Harau, kabupaten Limapuluh Kota , Sumatera Barat.


Demografi dan Sistem Pemerintahan
"Purwajaya berpenduduk sekitar 2.200 san, lebih dari 700 KK dengan suku bangsa mayoritas Jawa kemudian suku Minang, suku Batak Tapanuli, suku Melayu dan ada juga sedikit Aceh yang menganut agama Islam, Katolik, Protestan dan Pantekosta. Alhamdulillah mereka hidup damai, sampai sekarang kerukunan dan toleransi masih terjaga." katanya.

Amir Amri melanjutkan "Purwajaya ini terdiri dari tiga dusun, yaitu dusun Wiratama, Dusun  Wirajaya dan dusun Wira guna. Dusun ini sudah ada sejak zaman desa dulu, sampai sekarang masih kita pertahankan guna membantu kepala jorong dalam mengurus warga yang sebanyak ini. Kalau hanya diandalkan kepala jorong saja, mungkin kita tidak akan bisa melayani masyarakat di jorong seluas ini." akuinya.

"Selain itu, di Purwajaya ini ada pula semacam dewan permusyawaratan yang disebut sebagai "Pini Sepuh" yaitu orang yang dituakan, sesepuh, pemimpin, orang yang dianggap berjasa yang berjumlah sebanyak 33 orang; mewakili seluruh suku, ras dan agama. Pinisepuh melakukan pertemuan sebulan sekali mebahas masalah-masalah di tengah masyarakat berkenaan dengan adat-istiadat, sosial, budaya, agama dan lain sebagainya. Jadi Pinisepuh ini ibaratnya sebagai Niniak-Mamak kampung lah" katanya.

"Misalnya, kalau ada warga yang melaksanakan prosesi pernikahan dan akan memakai adat apa, maka disampaikanlah kepada Pinisepuh. Atau ingin mengundang masyarakat beda agama ke acara pesta pernihakan maka disampaikanlah ke Pinisepuh atau ingin mengadakan upacara agama, pemakaian tempat, maka dimusyawarahkan dulu melalui Pinisepuh" jelasnya.

"Dalam hal pemerintahan, kepala jorong hanya sebagai fasilitator saja, semuanya sudah ada sistem yang mengaturnya seperti kearifan lokal adat istiadat serta aturan perundang-undangan. Sebagai orang yang ditinggikan seranting didahulukan selangkah kepala jorong akan merangkul semuanya."

"Ya itulah yang kami laksanakan di Purwajaya ini, jadi kami berusaha memposisikan diri sebagai bapak bagi seluruh masyarakat, walaupun sebenarnya bidang kita agama sebenarnya kan.. namun kami tidak mau memaksakan diri kepada orang lain, jadi apapun agama mereka, apapun suku mereka itu kitab tetap menjadi orang di tengah, mengayomi. Kita mempunyai hak yang sama sesuai dengan undang-undang, umpamanya kalau ada yang miskin ya kita masukkan ke data miskin, kalau ada yang berhak mendapatkan bantuan ya kita usahakan mendapatkan bantuan."

"Kadang-kadang pada tahun baru kan ada kegiatan, itu tetap kita fasilitasi, kalau ada yang mau memperingati Natal atau Tahun Baru Masehi segala macam, silahkan laksanakan, sesuai dengan kearifan lokal yang ada di sini, dan tidak meresahkan yang lain, dan jaga keamanan. Ya kalau bisa menjaga itu silahkan, tapi kalau sudah mendatangkan dari luar, memaksakan membuat resah yang lain, itu tetap tidak boleh. Tetapi masyarakat kita sudah paham dan alhamdulillah sampai sekarang kerukunan masih tetap berjalan sebagaimana yang diharapkan,  walaupun ada juga sedikit banyaknya gejolak-gejolak di tengah masyarakat namun bisa kita redam."

"Di Purwajaya ini gesekan antar warga kadang ada juga, baik antar suku, maupun agama, namun segera kita minimalisir. Sesuai sistem yang ada, kita bersama-sama cepat mencari jalan untuk menguranginya supaya permasalahan tidak semakin besar. Kita selalu mengutamakan dialog antar warga, membahas persoalan-persoalan kemasyarakatan melalui Pinisepuh tadi." tutunya.


Integrasi warga
"Dalam bidang sosial kemasyarakatan kita semuanya tegak sama tinggi, duduk sama rendah, apakah itu pada kegiatan gotong royong, ronda, membezuk warga sakit, menyilau warga yang meninggal dunia, itu kita tetap bersama-sama. Jikalau ada misalnya Muslim meninggal dunia, maka warga lainpun yang non Muslim tetap membezuk bersama kongsi-kongsi sosial masing-masing. Demikian juga jikalau Tapanuli meninggal dunia misalnya, maka warga lain juga datang membezuknya, namun pada acara tertentu yang berlaku untuk intern, yang lain tidak ikut."

" Dalam hal adat misalnya, setelah pelaksanaan akad nikah secara agama kan ada acara adatnya semisal anta japuik marapulai, temu manten dan lain sebagainya, itu tetap kita lestarikan. Bahwan kalau ada warga yang bukan Jawa melakukan prosesi temu manten, tetap juga akan dibantu pelaksanaannya."

 Toleransi Warga
"Misalnya lagi warga Tapanuli mengadakan pesta, lalu mereka mengundang warga Purwajaya, maka untuk orang Muslim ditentukan juga tempat memasaknya, yang memasak juga orang Muslim dan kita sama-sama datang menghadiri pesta mereka. Namun kegiatan intern mereka yang lain tidak hadir, itu cuma untuk sesama suku saja."

"Kemudian Dalam bidang agama, tidak ada saling memaksanakan kehendak ajaran agamanya kepada yang lain, tidak ada orang Islam yang menceramahi agama lain, dan tidak ada pula sebaliknya. Masyarakat tetap bebas menjalankan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing sebagaimana yang telah diatur dalam perundang-undangan yang berlaku di negara kita."

"Kalau beribadah, ya beribadahlah di tempat yang sudah ditentukan, jikalau ingin membuat rumah ibadah harus memenuhi dulu ketentuan undang-undang, kalau tidak salah kan ada tu peraturan tiga mentri sebagaimana yang disampaikan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB); jika ingin membuat tempat beribadah diantara syaratnya: 1. Harus memiliki 90 KK, kemudian 2. Ada Izin dari tetangga sekitar 60 KK.

Kerjasama warga
"Kalau ada ronda malam semua warga ikut berpartisipasi, dari semua ras, suku dan agama, Minang, Batak, Jawa semuanya dicampur, kalau tidak datang didenda".

"Kita di Purwajaya ini selalu mengadakan gotong-royong membersihkan kampung sekali seminggu, semisal membersihkan selokan, jalan raya yang dilaksanakan pada hari Sabtu bagi warga kristiani dan pada hari Minggu bagi warga beragama lainnya. Kalau Kristiani hari Minggu mereka mesti ke gereja kan ya.." tuturnya.
 
Persatuan warga
"Persatuan warga dapat dilihat diataranya di lapangan olahraga, di Purwajaya ada lapangan bola Voli, tanahnya milik warga Tapanuli, jadi yang memakai itu pemuda-pemuda warga kita juga. Di dekat TK juga ada lapangan Voli satu lagi, itu biasanya kalau main, pemuda campur, Batak, Jawa, Minang, berkumpul jadi satu main di situ".

"Hasilnya dapat kita lihat dari usaha pembangunan kantor desa, dulu kantor desa purwajaya ini terletak di sebelah kantor Dinas Pendidikan itu, ada rumah papan ketika itu. Kemudian ketika balik ke nagari, warga purwajaya juga membangun kantor jorong yang baru secara swadaya. Sekarang kantor jorong itu sedang direhap dengan dana nagari, kemaren kita dapat sebanyak 50 juta."
 
"Di sebelah kantor jorong itu ada pula gedung serbaguna, itu swadaya masyarakat juga. Gedung itu 100 persen swadaya masyarakat, yang pendirinya sudah banyak yang meninggal salah seorang yang masih hidup itu sekarang adalah bapak Lasidi yang bekerja di instpektorat, sekarang beliau tetap sebagai bendahara. Untuk pembangunannya ketika itu ada yang mengumpulkan dana, uang seribu-dua ribu, ada yang menyumbang semen, kayu, maka jadilah gedung itu."

"Pada tanggal 17 September setiap tahunnya selalu diadakan perayaan ulang tahun jorong Purwajaya, disini nampak persatuan warga. Semua suku menampilkan adat istiadat masing-masing. Seingat saya ulang tahun jorong ini sudah ada sejak tahun 1990 an.*Fitra Yadi - HN
Lebih baru Lebih lama