WALAU DIBAWAH GUYURAN HUJAN, UPACARA PERINGATAN HARI SANTRI DI LIMAPULUH KOTA TETAP BERJALAN KHIDMAT


Selasa, 22 Oktober 2019 M - 23 Shafar 1441 H

Upacara HSN 2019
di halaman kantor Bupati Limapuluh Kota
dibawah guyuran Hujan
HAWAALIYNEWS, Sarilamak - Walau dibawah guyuran hujan, upacara peringatan HSN (Hari Santri Nasional) ke-5 tahun 2019 ini tetap berjalan dengan khidmat di halaman kantor Bupati Lima Puluh Kota Sumatera Barat , Jl. Raya negara KM.10, Harau, Bukit Limau, Sarilamak pada pagi Selasa (22/10/2019). Bertindak sebagai Pasukan Pengibar Bendera santri Ponpes Darul Funun dan inspektur upacara Bupati Lima Puluh Kota Ir. H. Irfendi Arbi, M.P.

Undangan dalam Upacara HSN
Pada acara tersebut hadir pimpinan, guru-guru beserta santri Pondok Pesantren Se Kabupaten Lima Puluh Kota, Pengurus FKDT, BKS TPQ, beserta santri-santri TPQ dan MDTA, Kakankemenag Limapuluh Kota beserta jajarannya, Polres, Kodim, pengurus Ormas, Bupati dan wakil Bupati Limapuluh Kota, Ketua DPRD Limapuluh Kota dan undangan lainnya.

Setelah upacara Bendera, bupati memberi selamat dan melepas keberangkatan 1 orang peserta dari kabupaten Lima Puluh Kota mewakili Sumatera Barat yang akan mengikuti PORSADIN di Bangka Belitung pada tanggal 24-27 Oktober 2019 mendatang.

Penyerahan trofi kepada
Santri Ponpes Darul Funun
Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah Padang Japang, VII Koto Talago kecamatan Guguak adalah juara umum berturut-turut selama tiga kali pelaksanaan Pontren Cup yang diadakan untuk memperingatai HSN setiap tahunnya. Trofi bergilir yang selama ini disimpannya sudah menjadi trofi tetap untuk Darul Funun. Bupati Lima Puluh Kota Ir. H. Irfendi Arbi, M.P. beserta Kepala Kantor Kemenag Limapuluh Kota Drs. H. Ramza Husmen, M.Pd. menyerahkan trofi tetap itu kepada santri Perguruan Darul Funun.

Diantara cabang yang diperlombakan pada Pontren Cup dalam rangka memperingati HSN 22 Oktober 2019 ini adalah Badminton, Takraw dan MQK (Musabaqah Qiraatul Kutub) yang diikuti oleh sekitar 10 Pondok Pesantren di Kabupaten Lima Puluh Kota. Acara tersebut dilaksanakan mulai pada hari Selasa, 15 Oktober 2019 dengan tuan rumah Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah Jl. Tanjuang Rongik, Padang Japang, nagari VII Koto Talago, kecamatan Guguak kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Bupati Lima Puluh Kota
Bersama Paskibra Ponpes Darul Funun

Pada upacara peringatan Hari Santri tersebut Bupati Lima Puluh Kota Ir. H. Irfendi Arbi, M.P. menyampaikan Sambutan menteri Agama Republik Indonesia yang ditanda-tangani oleh Sekretaris Jenderal Menteri Agama Republik Indonesia M. Nur Kholis Setiawan yang berbunyi:

"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saudara-saudara santri di seluruh Tanah Air yang saya banggakan. Dalam suasana memperingati Hari Santri tanggal 22 Oktober 2019, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, semoga rahmat, berkat, dan perlindungan-Nya senantiasa menyertai kita semua. Saudara-saudara sekalian

Berphoto Bersama setelah Peringatan HSN
Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada tercetusnya "Resolusi Jihad" yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, kita selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema "Dari Pesantren untuk Indonesia", tahun 2017 "Wajah Pesantren Wajah Indonesia", dan tahun 2018 "Bersama Santri Damailah Negeri".

Meneruskan tema tahun 2018, peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema "Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia". Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia.

Saudara-saudara yang berbahagia. Setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian.

Pertama; Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya ResolusiJihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah airsebagian dari iman).

Kedua; Metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahsul masail untukmen cari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber hukumyang otentik.

Ketiga; Para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.

Keempat; Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu.

Kelima; Gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.

Saudara-saudara sekalian. Adapun alasan yang Keenam adalah Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbedadan baru.

Ketujuh, Merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.

Kedelapan; Prinsip Maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawarlagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moralmaupun intelektual.

Kesembilan; Penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatun nafs, yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan fikiran dan tindakan yang bersih dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme

Saudara-saudarayang berbahagia. Di samping alasan pesantren sebagai laboratorium perdamaian, keterpilihan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sejak 2 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020, dimana bargaining position Indonesia dalam menginisiasi dan mendorong proses perdamaian dunia semakin kuat dan nyata, menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa, terutama kalangan santri Indonesia agar turut berperan aktif dan terdepan mengemban misi dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian di dunia internasional.

Saudara-saudara sekalian. Akhirnya kita juga patut bersyukur karena dalam peringatan Hari Santri Tahun 2019 ini terasa istimewa dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan Undang-Undang tentang Pesantren ini memastikan bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan, tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan fungsi pengabdian masyarakat. Dengan Undang-Undang ini negara hadir untuk memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi kepada pesantren dengan tetap menjaga kekhasan dan kemandiriannya. Dengan Undang-Undang ini pula tamatan pesantren memiliki hak yang sama dengan tamatan lembaga lainnya.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ucapkan "Selamat Hari Santri 2019, Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia".
Wassalamudlaikum WarahmatullahiWabarakatuh.*Fitra Yadi - HN

Yuk Download lagu-lagu Peringatan Hari Santri Nasional, klik disini

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama