TERNYATA TARBIYAH CANDUANG SUDAH BERUSIA 111 TAHUN

Jum'at, 02 Agustus 2019 M - 01 Dzulhijjah 1440 H

Pesantren MTI Canduang
Agam - HN, Ternyata Tarbiyah Canduang sudah berusia 111 tahun, hal itu terbukti dari catatan sejarah Perguruan Islam tersebut. "Pendiri Tarbiyah Canduang Syekh Sulaiman Arrasuli kembali dari Makkah menyelesaikan studinya pada tahun 1907. Setahun setelah itu, yaitu  pada tahun 1908 beliau membuka halaqah pengajian di “Surau Baru” di Pakan Kamih." demikian kata ustazd Abdul Yamin, Spd bagian HUMAS Pondok Pesantren MTI Canduang saat ditemui media ini di lokasi pada siang Kamis (01/07/2019).

Masih dalam rangka Safari Pendidikan memperkaya wawasan di bidang pendidikan agama khususnya pesantren, kali ini HN (Hawaaliy News) berkunjung ke MTI Canduang Agam Sumatera Barat.

Pesantren ini bernama Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang yang terletak di Pakan Kamih, jorong Lubuak Aua - Batu Balantai nagari Canduang Koto Laweh kecamatan Canduang Kabupaten Agam Sumatera Barat. MTI Canduang terletak di antara dua jorong, gedung belajar dan asrama putri terletak di jorong Lubuak Aua, sedangkan Masjid dan asrama putra terletak di jorong Batu Balantai nagari Canduang Koto Laweh.

Masyarakat sekitar lebih mengenal pesantren ini dengan sebutan "Tarbiyah Canduang atau Tarbiyah Pakan Kamih". Tarbiyah Pakan Kamih ini tidak jauh dari Pasar Baso, sekitar 1.5 Km. Bila anda dari arah Payakumbuh, sampai di pasar Baso jalan lurus arah ke Bukittinggi 1 Km, di simpang Canduang (simpang Empat sebelum SPBU) belok ke kiri arah ke gunung Merapi sejauh 500 m. anda akan mendapati gedung-gedung Tarbiyah Canduang yang dibelah oleh jalan raya. Untuk memudahkan sampai di lokasi, anda bisa juga menggunakan aplikasi googlemaps dengan keyword "Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang" atau klik disini

Sesampai di Tarbiyah Canduang, terdengar suara bel pertanda istirahat siang. Sekitar 1. 235 orang santri bergegas ke Masjid menunaikan shalat Zuhur. Laki-laki berwudhuk di bawah tangga sebelah kanan kemudian terus shalat ke lantai dua. Sedangkan perempuan berwudhuk di sebelah kiri di bawah tangga, lalu mereka masuk ke lantai dasar masjid untuk menunaikan shalat berjamaah pula.

Setelah istirahat, santri kembali masuk ke lokal masing-masing sampai pukul 14.30 Wib. Hari ini adalah hari terakhir belajar setiap pekannya, santri MTI Canduang hanya belajar sampai hari Kamis. Hari Jum'at libur dan hari Sabtu kembali belajar seperti biasanya. Hari pertama belajar setiap pekannya adalah hari Sabtu, sedangkan hari liburnya adalah hari Jum'at, bulan Ramadhan ditambah libur resmi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Tidak semua santri tinggal di asrama, hal itu disebabkan karena keterbatasan sarana. Santri yang berasal dari sekitar pesantren tinggal di rumah orang tua masing-masing dan ada juga santri yang indekos di rumah-rumah warga serta tinggal di masjid dan mushalla di sekitar Canduang.

Tarbiyah Canduang jenjang pendidikannya adalah 7 tahun, tahun pertama adalah i'dad (kelas persiapan). I'dad di tingkat Tsanawiyah disebut kelas satu, sedangkan santri pindahan yang masuk ke tingkat Aliyah masuk dulu i'dad yang disebut dengan "Kelas Empat Khusus", mereka hanya belajar kurikulum Tarbiyah saja seperti al-Quran, Hadis, Tafsir, Fiqh, Tauhid, Ushul Fiqh, Akhlak Tashauf, Adillatu Fiqh, Nahwu, Sharaf, Tashrif, tarekh. Kemudian di kelas dua Tarbiyah barulah disisipkan kurikulum Kemenag dan Kemendigbud seperti IPA, IPS, MTK, PKN, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Sejarah, Akidah Akhlak, Qur'an Hadis, SKI. Jadi, kelas dua Tarbiyah sama dengan kelas satu Tsanawiyah, kelas satu Aliyahnya dimulai pada kelas Lima sampai dengan kelas tujuh. Tamat Tarbiyah, santri akan mendapatkan tiga Ijazah, yaitu ijazah Tsanawiyah, Ijazah Aliyah dan Ijazah Tarbiyah.

Dari kelas empat sampai kelas tujuh diantara mata pelajaran Tarbiyah yang dipelajari adalah Balaghah, Qawa'idul Fiqh, Mantiq, Nahwu, Sharaf, Tahfizd dan Tahsin Alquran, Tafsir, Hadis, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, Hadist, Tauhid, Perbandingan Mazhab, Ushul Fiqh, Tasauf, ditambah dengan mata pelajaran umum seperti MTK, IPA, IPS, Sosiologi, Antropologi Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Akidah Akhlak, Qur'an Hadist, SKI, Fiqh Syari'ah, Bahasa Inggris, Sejarah dan lain-lain. Ektrakurikulernya adalah Pramuka, Majelis Shalawat, Rebana, Jurnalis Santri, Silat dan Karate.

Kegiatan malam santri diatur di asrama masing-masing. Namun ada juga sesekali kegiatan Muhaddarah di masjid atau di ruangan Aula Madrasah yang digelar oleh paguyuban santri dari daerah masing-masing, semisal dari Jambi, Riau, Kepri, Sumatera Barat. Dari Sumbar ada pula paguyuban Tanah Datar, Payakumbuh, Pasaman, Padang, Solok. Sijunjung dan lain-lain.

Tarbiyah Canduang adalah salah satu dari Madrasah PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) hasil pengembangan sistem belajar Surau dari halaqah pengajian Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) di Surau Baru Pakan Kamih yang diasuhnya sejak tahun 1908. Jika dihitung sejak tahun 1908 hingga tahun 2019 ini, maka usia Tarbiyah Canduang adalah 111 tahun.

Syekh Sulaiman Arrasuli lahir di Canduang pada tahun 1871. Pada masanya beliau lebih dikenal dengan sebutan “Inyiak Canduang” atau “Buya Canduang”. Semenjak usia sepuluh tahun beliau menuntut ilmu-ilmu keislaman tanpa terputus dari surau ke surau di sekitar Minangkabau, kemudian melanjutkan pendidikan ke Makkah Al-Mukarramah.

Syekh Sulaiman Arrsuli
Pada tahun 1907 Syekh Sulaiman Arrasuli kembali dari Makkah menyelesaikan studinya. Setahun setelah itu, yaitu  pada tahun 1908 beliau membuka halaqah pengajian di “Surau Baru” di Pakan Kamih. Sistem yang dipakai adalah berupa hafalan dengan menamatkan satu atau dua kitab dengan mengajarkan bermacam-macam kitab gundul, serta mempunyai tingkat yang sesuai dengan tinggi rendahnya kitab-kitab yang dipelajari sebagaimana yang pernah beliau pelajari di Makkah dulu. Pelajaran yang diberikan oleh Syekh Sulaiman pada Surau Baru itu sudah mempunyai rangkuman dan daftar yang terjadwal dengan baik. Surau itulah cikal bakal berdirinya Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang.

Pada tahun 1928 sistem pendidikan Halaqah di Surau Baru berubah bentuk menjadi klasikal dengan nama “Madrasah Tabijah Islamijah Tjandoeng”. Lama pendidikannya adalah 7 tahun. Ketika itu mulai digunakan lokal, bangku, meja, papan tulis sebagai media pengajaran.

Ketika upacara peresmian madrasah ini, tepatnya pada tanggal 15  Zulkaedah 1346 H atau 5 Mei 1928 M hadir para ulama dan pimpinan surau-surau dari berbagai daerah di ranah Minang. Kemudian mereka tertarik dan bermusyawarah-mufakat untuk merubah sistem “Surau” (Halaqah) yang mereka asuh menjadi klassikal yang diberi nama dengan Tarbiyah Islamiyah serta memakai kurikulum dan kitab-kitab yang sama, hingga lebih dari 300 lembaga pendidikan Tarbiyah Islamiyah berdiri di berbagai propinsi di Indonesia.

Pada tanggal 5 Mei 1928 itu terbentuk pula wadah sillaturrahmi dan komunikasi antar Tarbiyah Islamiyah yang merupakan cikal bakal dari lahirnya organisasi kemasyarakatan yang dikenal dengan nama PERTI (Prsatuan Tarbiyah Islamiyah). Kalau dihitung dari tahun 1928 maka hingga tahun 2019 ini usia MTI Canduang baru 91 tahun namun bila dihitung dari awal pencetusannya sejak tahun 1908 maka usia Tarbiyah Canduang sudah 111 tahun. * Fitra Yadi - HN

MTI Canduang pada tahun 1930 han

Baca Selengkapnya tentang MTI Canduang, Kunjungi websitenya, klik disini

2 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama